PENGGUNAAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI TERBARU CLOUD COMPUTING
( Komputasi Awan ) UNTUK BISNIS PERUSAHAAN
Arwan
Henderi
Muhamad Yusup
email : valentinoarwan94 @gmail.com,henderi@pribadiraharja.com,
muhamad .yusup@faculty.raharja.ac.id

ABSTRAK

Teknologi informasi (TI) serta perkembangan internet telah mampu menciptakan teknologi terbaru, efektivitas efisien yang mendukung kegiatan berbisnis perusahaan. dengan memaksimalkan pemamfaatkan internet untuk memberikan kebutuhan komputasi terhadap pengguna. Paper ini akan membahas penggunaan dan pengembangan teknologi komputer cloud computing (komputasi awan )untuk bisnis perusahaan,karena komputasi awan melalui konsep virtualisasi, standarisasi, dan fitur mendasar lainnya dapat mengurangi biaya Teknologi informasi ( TI), menyederhanakan pengolahan layanan TI, dan mempercepat penghantaran layanan secara umum arsitektur terdiri dari (1) infrastucture as a service ( IaaS) (2) platform as a service ( PaaS) (3) software as a service (SaaS).Perusahaan-perusahaan sebagai institusi pengembang teknologi informasi tentunya memiliki potensiyang cukup besar dalam penerapan teknologi cloud computing dimasa yang akan datang. Potensipotensi yang tersedia seperti kebutuhan teknologi informasi yang terbaru , sumberdaya informasi, infrastuktur dan SDM tentunya menjadi kekuatan dalam pengembangan komputasi awan untuk bisnis perusahaan – perusahaan. Dibutuhkan perancangan yang matang dan terintegrasi antar semua pihakagar penggunaan dan pengembangan komputasi awan di perusahaan dapat diwujudkan. Tulisan inibertujuan untuk memberikan gambaran tentang konsep penerapan cloud computing di perusahaan ,sehinnga dimasa yang akan datang perusahaan – perusahaan sebagai penyadia lapangan pekerjaandapat memberikan layanan terbaik , mutakhir dan berkesinambungan kepada pegawainya.
Kata kunci : Teknologi Informasi , Cloud Computing

1. Pendahuluan
Perusahaan menggunakan teknologi informasi ( TI ) untuk mendukung dan meningkatkan efektivitas dan efisiensi . Tidak berbeda dengan sekolah , dan instansi pemerintahan . Melalui penerapan TI ,perusahaan dapat menghasilkan produk dan jasa yang berkualitas tinggi , Bersifat global , dan berdaya saing tinggi. Bahkan pada tingkatan tertentu, pemamfaatan TI secara optimal dapat meningkatkan standar, kualitas perusahaan dan dapat mendukung pelaksanaan bisnis perusahaan.

    Adanya fenomena ini , merupakan tantangan yang cukup besar bagi perusahaan . Sebagai institusiyang berperan dalam penyedia jasa pekerjaan ,dan pengembang teknologi informasi tentunya perusahaan harus aktif dan inovatif dalam memberikan dan menciptakan program layanan yang dapat membantupegawai pengguna. Salah satu trend teknologi yang saat ini masih digali dalam penelitian – penelitian para pakar IT di dunia , yaitu cloud computing memungkinkan akses data dari mana saja dan menggunakan perangkat fixed atau mobile device menggunakan internet cloud , sebagai tempatpenyimpanan data , aplikasi dan lainnya yang dapat dengan mudah mengambil data , download aplikasi dan berpindah ke cloud lainnya, hal ini memungkinkan kita dapat memberikan layanan aplikasi secara mobile di masa depan . Trend ini memberikan banyak keuntungan baik dari sisi pemberian layanan( provider) atau dari sisi pengguna (user).
Tulisan ini bertujuan untuk me,berikan gambaran tentang konsep penerapan cloud computing diperpustakaan, sehingga dimasa yang akan datang perusahaan sebagai penyedia layanan pekerjaan dapat memberikan layanan yang terbaik, mutakhir dan berkesinambungan kepada penggunanya. Dengan berbekal informasi yang ada , pengguna dapat melakukan berbagai pengkajian, penelitian, atau keperluan lain untuk melahirkan pemikiran dan inovasi yang dapat bermamfaat bagi khalayak luas.

2. Hasil dan Pembahasan
2.1 Komputasi Awan (Cloud Computing)
Pada dunia TI para ahli telah banyak memberikan definisi atau pengertian tentang komputasi awan. Cloud computing can be defined as simply the sharing and use of applications and resources of a network environment to get work done without concern about ownership and management of the network’s resources and applications. With cloud computing, computer resources for getting work done and their data are no longer stored on one’s personal computer, but are hosted elsewhere to be made accessible in any location and at any time (Scale, 2009).
Cloud computing is becoming an adoptable technology for many of the organizations with its dynamic scalability and usage of virtualized resources as a service through the Internet. (Ercana, 2010). Definisi yang hampir sama menurut dikatakan oleh Furht (2010) bahwa cloud computing can be defined as a new style of computing in which dynamically scalable and often virtualized resources are provided as a services over the Internet. Sedangkan menurut Hayes (2008) Cloud computing is a kind of computing which is highly scalable and use virtualized resources that can be shared by the users. Users do not need any background knowledge of the services. A user on the Internet can communicate with many servers at the same time and these servers exchange information among themselves.
Kehadiran komputasi awan awalnya memang hadir bagi kalangan industri. Sebagaimana yang dikatakan oleh Hartig (2008) Cloud computing is a new model of computing that is widely being utilized in today’sindustry and society. Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi penerapan teknologi ini, antara lain :
(1) Ini adalah sebuah model layanan berbasis Internet untuk menampung sumberdaya sebuah perusahaan. Artinya sebuah perusahaan tak perlu lagi memiliki atau mendirikan infrastruktur lantaran sudah ada perusahaan lain yang menyediakan “penampung” di cloud alias Internet.
(2) Sebuah perusahaan tak perlu lagi mengalokasikan anggaran untuk pembelian dan perawatan infrastrukturdan software.
(3) Perusahaan pun tak perlu memiliki pengetahuan serta merekrut tenaga pakar dan tenaga pengontrol infra-struktur di “cloud” yang mendukung mereka.
National Institute of Standards and Technology (NIST), Information Techno-logy Laboratory memberikan dua buah catatan mengenai pengertian komputasi awan. Pertama, komputasi awan masih merupakan paradigma yang berkembang. Definisi, kasus penggunaan, teknologi yang mendasari, masalah, risiko, dan manfaat akan terus disempurnakan me-lalui perdebatan baik oleh sektor publik maupun swasta. Definisi, atribut, dan karakteristik akan berkembang dan berubah dari waktu ke waktu. Kedua, industri komputasi awan merupakan ekosistem besar dengan banyak model, vendor, dan pangsa pasar. Definisi ini mencoba untuk mencakup semua pen-dekatan berbagai awan (Mell & Grance, 2009).
Dari kedua catatan tersebut NIST memberikan definisi komputasi awan adalah model untuk memungkinkan kenyaman, on-demand akses jaringan untuk memanfaatkan bersama suatu sumberdaya komputasi yang terkonfigurasi (misalnya, jaringan, server, penyimpanan, aplikasi, dan layanan) yang dapat secara cepat diberikan dan dirilis dengan upaya manajemen yang minimal atau interaksi penyedia layanan. Model komputasi awan mendorong ketersediaan dan terdiri dari lima karakteristik, tiga model layanan, dan empat model penyebaran (Mell dan Grance, 2009).

2.2 Karakteristik Komputasi Awan
NIST mengidentifikasi lima karakte-ristik penting dari komputasi awan (Mell & Grance, 2009) sebagai berikut:
1. On-demand self-service. Pengguna dapat memesan dan mengelola layanan tanpa interaksi manusia dengan penyedia layanan, misalnya dengan mengguna-kan, sebuah portal web dan manajemen antarmuka. Pengadaan dan perleng-kapan layanan serta sumberdaya yang terkait terjadi secara otomatis pada penyedia.
2. Broad network access. Kemampuan yang tersedia melalui jaringan dan diakses melalui mekanisme standar, yang mengenalkan penggunaan berbagai platform (misalnya, telepon selular, laptop, dan PDA).
3. Resource pooling. Penyatuan sumberdaya komputasi yang dimiliki penyedia untuk melayani beberapa konsumen menggunakan model multi-penyewa, dengan sumberdaya fisik dan virtual yang berbeda, ditetapkan secara dinamis dan ditugaskan sesuai dengan permintaan konsumen. Ada rasa kemandirian lokasi bahwa pelanggan umumnya tidak memiliki kontrol atau pengetahuan atas keberadaan lokasi sumberdaya yang disediakan, tetapi ada kemungkinan dapat menentukan lokasi di tingkat yang lebih tinggi (misalnya, negara, negara bagian, atau datacenter). Contoh sumberdaya termasuk penyimpanan, pemrosesan, memori, bandwidth jaringan, dan mesin virtual.
4. Rapid elasticity. Kemampuan dapat dengan cepat dan elastis ditetapkan.
5. Measured Service. Sistem komputasi awan secara otomatis mengawasi dan mengoptimalkan penggunaan sumber-daya dengan memanfaatkan kemampu-an pengukuran (metering) pada beberapa tingkat yang sesuai dengan jenis layanan (misalnya, penyimpanan, pemrosesan, bandwidth, dan account pengguna aktif). Penggunaan sumber-daya dapat dipantau, dikendalikan, dan dilaporkan sebagai upaya memberikan transparansi bagi penyedia dan konsu-men dari layanan yang digunakan.
Sedangkan tiga jenis model layanan dijelaskan oleh NIST (Mell dan Grance, 2009) sebagai berikut :
1. Cloud Software as a Service (SaaS). Kemampuan yang diberikan kepada konsumen untuk menggunakan aplikasi penyedia dapat beroperasi pada infrastruktur awan. Aplikasi dapat diakses dari berbagai perangkat klien melalui antarmuka seperti web browser (misalnya, email berbasis web).Konsumen tidak mengelola atau mengendalikan infrastruktur awan yang mendasari termasuk jaringan,server, sistem operasi, penyimpanan, atau bahkan kemampuan aplikasi individu, dengan kemungkinan pengecualian terbatas terhadap pengaturan konfigurasi aplikasi pengguna tertentu.
2. Cloud Platform as a Service (PaaS). Kemampuan yang diberikan kepada konsumen untuk menyebarkan aplikasi yang dibuat konsumen atau diperoleh ke infrastruktur komputasi awan menggunakan bahasa pemrograman dan peralatan yang didukung oleh provider. Konsumen tidak mengelola atau mengendalikan infrastruktur awan yang mendasari termasuk jaringan, server, sistem operasi, atau penyim-panan, namun memiliki kontrol atas aplikasi disebarkan dan memungkinkan aplikasi melakukan hosting konfigurasi.
3. Cloud Infrastructure as a Service (IaaS). Kemampuan yang diberikan kepada konsumen untuk memproses, menyim-pan, berjaringan, dan komputasi sumberdaya lain yang penting, dimana konsumen dapat menyebarkan dan menjalankan perangkat lunak secara bebas , dapat mencakup sistem operasi dan aplikasi. Konsumen tidak menge-lola atau mengendalikan infrastruktur awan yang mendasari tetapi memiliki kontrol atas sistem operasi, penyim-panan, aplikasi yang disebarkan, dan mungkin kontrol terbatas komponen jaringan yang pilih (misalnya, firewall host).
Model penyebaran komputasi awan menurut NIST terdiri dari empat model (Mell dan Grance, 2009),yaitu:
1. Private cloud. Swasta awan. Infrastruktur awan yang semata-mata dioperasikan bagi suatu organisasi.Ini mungkin dikelola oleh organisasi atau pihak ketiga dan mungkin ada pada on premis atau off premis.
2. Community cloud. Masyarakat awan. Infrastruktur awan digunakan secara bersama oleh beberapa organisasi dan mendukung komunitas tertentu yang telah berbagi concerns (misalnya, misi, persyaratan keamanan, kebijakan, dan pertimbangan kepatuhan). Ini mungkin dikelola oleh organisasi atau pihak ketiga dan mungkin ada pada on premis atau off premis.
3. Public cloud. Infrastruktur awan yang dibuat tersedia untuk umum atau kelompok industri besar dan dimiliki oleh sebuah organisasi yang menjual layanan awan.
4. Hybrid cloud. Hybrid awan. Infrastruktur awan merupakan komposisi dari dua atau lebih awan (swasta, komunitas, atau publik) yang masih entitas unik namun terikat bersama oleh standar atau kepemilikan teknologi yang menggunakan data dan portabilitas aplikasi (e.g., cloud bursting for loadbalancing between clouds Secara garis besar definisi komputasi awan menurut NIST dapat digambarkan (Mell dan Grance,2009) sebagai berikut:

Gambar 1. The NIST Definition Framework

2.3 Komponen Cloud Computing
Ada tiga komponen dasar komputasi awan dalam topologi yang sederhana menurut Velte (2010) yaitu clients, datacenter, and distributed servers. Ketiga komponen dasar tersebut memiliki tujuan dan peranan yang spesifik dalam menjalankan operasi komputasi awan. Konsep ketiga komponen tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2. Tiga Komponen Dasar Komputasi Awan

    Clients pada arsitektur cloud computing dikatakan the exact same things that they are in a plain, old, everyday local area network (LAN). They are, typically, the computers that just sit on your desk. But they might also be laptops, tablet computers, mobile phones, or PDAs—all big drivers for cloud computing because of their mobility. Clients are the devices that the end users interact with to manage their information on the cloud.
Datacenter is the collection of servers where the application to which you subscribe is housed. It could be a large room in the basement of your building or a room full of servers on the other side of the world that you access via the Internet. A growing trend in the IT world is virtualizing servers. That is,software can be installed allowing multiple instances of virtual servers to be used. In this way, you can have half a dozen virtual servers running on one physical server.
Sedangkan Distributed Servers merupakan penempatan server pada lokasi yang berbeda. But the servers don’t all have to be housed in the same location. Often, servers are in geographically disparate locations. But to you, the cloud subscriber, these servers act as if they’re humming away right next to each other.
Komponen lain dari cloud computing adalah Cloud Applications memanfaat-kan cloud computing dalam hal arsitektur software. Sehingga user tidak perlu menginstal dan menjalankan aplikasi denganmenggunakan komputer.
Cloud Platform merupakan layanan berupa platform komputasi yang berisi infrastruktur hardware dan software. Biasanya mempunyai aplikasi bisnis tertentu dan menggunakan layanan PaaS sebagai infrastruktur aplikasi bisnisnya. Cloud Storage melibatkan proses penyampaian penyimpanan data sebagai sebuah layanan. Cloud Infrastructure merupakan penyampaian infrastruktur komputasi sebagai sebuah layanan.
2.4 Keuntungan Komputasi Awan
Menurut Furht (2010), teknologi cloud computing memberikan keuntungan sebagai beriku:
(a)    Flexibility, They can decide how much storage space to use, and how much processing
power is required. While working to update software applications, the process can be pushed out much faster and more efficiently. Administrators can choose when to update an application enterprise-wide all in real time. It is up to them and how much they want to spend on IT with cloud technology
(b)    Scalability, With cloud computing one person can go from small to large quickly.
(c)    Capital Investment, With cloud computing, many rudimentary IT purchases for things like hardware are no longer an issue as long as that task or set of tasks can be performed by the cloud.
(d)    Portability, With cloud computing technology, organizations are able to use their computing    power wherever their people are as long as users are able to access thin clients. Thin client access is pretty much available everywhere that companies do business today, so this should not even be an issue. With thin client technology the scale of geography and time variation is flattened somewhat and this allows companies that are trying to globally integrate to be able to be more flexible than ever before.

Spinola (2009) menambahkan sedikitnya ada tiga kategori utama dari keuntungan atau manfaat dari komputasi awan, yaitu ;
1. delivery of service (faster time-to-value and time-to-market)
2. reduction of cost (CapEx vs. OpEx tradeoff and costs that are more competitive)
3. IT department transformation (focus on innovation vs. maintenance & implementation) Information Systems Audit and Control Association (ISACA) menjelaskan beberapa manfaat bisnis utama yang ditawarkan oleh komputasi awan meliputi:
• Cost containment—The cloud offers enterprises the option of scalability without the serious financial commitments required for infrastructure purchase and maintenance. There is little to no upfront capital expenditure with cloud services. Services and storage are available on demand and are priced as a pay-asyou-go service. Additionally, the cloud model could assist with cost savings in terms of wasted resources. Saving on unused server space allows enterprises to contain costs in terms of existing technology requirements and experiment with new technologies and services without a large investment. Enterprises will need to compare current costs against potential cloud expenses and consider models for TCO to understand whether cloud services will offer the enterprise potential savings.
• Immediacy—Many early adopters of cloud computing have cited the ability to provision and utilize a service in a single day. This compares to traditional IT projects that may require weeks or months to order, configure and operationalize the necessary resources. This has a fundamental impact on the agility of a business and the reduction of costs associated with time delays.
• Availability—Cloud providers have the infrastructure and bandwidth to accommodate business requirements for high speed access, storage and applications. As these providers often have redundant paths, the opportunity for load balancing exists to ensure that systems are not overloaded and services delayed. While availability can be promised, customers should take care to ensure that they have provisions in place for service interruptions.
• Scalability—With unconstrained capacity, cloud services offer increased flexibility and scalability for evolving IT needs. Provisioning and implementation are done on demand, allowing for traffic spikes and reducing the time to implement new services.
• Efficiency—Reallocating information management operational activities to the cloud offers businesses a unique opportunity to focus efforts on innovation and research and development. This allows for business and product growth and may be even more beneficial than the financial advantages offered by the cloud.
• Resiliency—Cloud providers have mirrored solutions that can be utilized in a disaster scenario as well as for load-balancing traffic. Whether there is a natural disaster requiring a site in a different geographic area or just heavy traffic, cloud providers say they will have the resiliency and capacity to ensure sustainability through an unexpected event.
CSO Group (2010) menambahkan bahwa adanya komputasi awan bagi perusahaan yang lebih besar tertarik dengan struktur keuangan yang dapat menyimpan uang mereka di berbagai bidang, termasuk:
• Capital expenses. Instead of dealing with amortization and depreciation over the estimated life of equipment, organi zations pay a monthly or annual fee for cloud computing contracts. That makes budgets more predictable.
• IT budgets. With hardware, software and networking capa bilities outsourced, companies save on equipment purchases, software licenses, upgrade fees and IT management costs.
• Development costs. Rather than fronting the cost of build ing and upgrading a custom application, companies rely on a service provider to maintain and upgrade applications.

2.5 Konsep Cloud Computing PERUSAHAAN
Teknologi cloud computing tidak serta merta diterapkan begitu saja di PERUSAHAAN. Penerapannya membutuh-kan suatu perencanaan yang jelas dan matang jika konsep teknologi tersebut akan diadopsi. Berdasarkan potensi yang dimiliki dan konsep-konsep teori sebelumnya PERUSAHAAN perlu memper-hatikan beberapa hal sebelum meng-aplikasikan teknologi cloud computing antara lain : infrastruktur, keamanan data, dan sumberdaya manusia.

A.Infrastruktur
Sebagai penyedia informasi bagi pengguna di lingkup client perusahaan. maka dukungan infrastruktur yang kuat sangat diperlukan. Perusahaan dapat melakukan penyewaan jaringan untuk akses internet. Dengan demikian Perusahaan dapat melakukan koneksi ke client bisnis dengan baik. Selain itu pula perlu direncanakan layanan Disaster Recovery Center (DRC). Hal ini dibutuhkan untuk mengantisipasi terjadinya gangguan pada pusat data.
Konsep DRC PERUSAHAAN dengan managerial perusahaan sedang dalam proses pengembangan.Managerial akan menempatkan server-servernya di Perusahaan. sebagai backup demikian juga sebaliknya PERUSAHAAN akan menempatkan server-servernya di managerial. Hal ini dikarenakan sering terputusnya jaringan internet oleh gangguan alam seperti petir. Kondisi infrastruktur dan arsitektur Sistem Informasi/Teknologi Informasi yang ada saat ini dapat terlihat bahwa untuk menuju arah cloud sudah mulai berjalan namun belum sepenuhnya.
B.Keamanan Data
Keamanan data menjadi begitu penting dalam penerapan cloud computing. Perusahaan harus dapat menjamin keamanan data dan informasi yang tersimpan dalam servernya. Hal ini penting untuk menjaga kepercayaan para user dalam hal ini perusahaan yang telah menyimpan data mereka. Terkait dengan keamanan komputasi awan, Olzak (2010) menjelaskan bahwa menilai dan mengelola risiko yang berkaitan dengan layanan awan hanya penyesuaian untuk proses yang ada manajemen risiko.Melindungi data organisasi merupakan hal yang sangat penting bagi keseluruhan risiko keseimbangan aktivitas organisasi.
Pada Gambar 3 dijelaskan merupakan model sederhana dari batas risiko internal yang ada pada banyak organisasi. Analis keamanan melakukan penilaian risiko ketika TI desain dan mengimplementasikan solusi internal. Namun, batas risiko dikelola berhenti di firewall perimeter. Tidak ada proses formal terhadap ancaman model yang dibuat dengan menghubungkan ke awan penyedia layanan.

Gambar 3. Internal Risk Boundary

        Jalan untuk integrasi komputasi awan yang aman adalah memperpanjang dari batas risiko, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4. Tujuannya untuk memperluas batas kemananan terhadap resiko komputasi awan baik didalam internal maupun eksternal organisasi. Tentunya akan mencakup semua hasil layanan secara keseluruhan sebagai nilai tambah dari core bisnis organisasi. (Olzak, 2010).

Gambar 4. Expanded Risk Boundary

         Konsep keamanan layanan komputasi awan Fujitsu yang disebut “trusted-service Platform, merupakan konsep yang dapat diadopsi. Menurut Mayasuki Okuhara (2010) dalam konsep tersebut dilakukan dengan membangun pemisahan secara logis dari jaringan, operating system, dan lapisan data melalui teknologi virtualisasi yang canggih (Gambar 5 ).

Gambar 5. Separation of Cloud Computing Environments

C. Sumberdaya Manusia (SDM)

PERUSAHAAN perlu menyiapkan SDM yang memiliki ketrampilan dan keahlian dalam bidang TI. Berdasarkan hasil critical mass SDM khusus unit TI setidaknya dibutuhkan adanya penambahan tenaga baru dengan kompetensi teknis programmer 2 orang, networking 1 orang dan multimedia 1 orang.Kompetensi yang demikian diharapkan dapat mengelola dengan baik teknologi cloud computing yang akan diterapkan. Selain adanya pelatihan yang berkesinambungan tentunya menjadi hal harus direncanakan secara berkala. Upaya untuk mengubah pola berpikir/ mindset SDM yang ada agar dapat mampu bekerja secara terintegrasi perlu terus diupayakan.

3. Kesimpulan

PERUSAHAAN memiliki potensi yang cukup besar dalam menerapkan teknologi cloud computing di masa yang akan datang. Dengan tersedianya dan terintegrasinya potensi-potensi yang dimiliki PERUSAHAAN mulai dari tupoksi, jaringan antar lembaga lingkup Client perusahaan, sumberdaya informasi, infrastruktur dan SDM tentunya dapat menjadi kekuatan dalam penerapannya. Namun tetap diperlukan rencana yang cermat dan menyeluruh mengenai infrastruktur, keamanan data dan sumberdaya manusia. Serta tidak kalah pentingnya adalah dukungan internal dari penentu kebijakan sehingga memper-mudah dalam proses tercipatanya layanan komputasi awan untuk bisnis perusahaan di Indonesia.

Daftar Pustaka

(1) CSO Group (2010) Mitigating Security Risk in the Cloud. Available at : http://eval. symantec.com/mktginfo/enterprise/white_papers/b-cso_group_miti gating_security_risk_in_the_cloud_ WP.en-us.pdf [retrieved on 2010-11-21 02:43AM]

(2) Ercana, Tuncay (2010) Effective Use of Cloud Computing in Educational Institutions. Procedia Social and Behavioral Sciences 2 (2010) : p. 938–942

(3) Hartig, K (2008) What is Cloud Computing? Cloud Computing Journal available at: http://cloudcomputing. sys-con.com/node/579826 [accessed 25 Oct 2010].

(4) ISACA. (2009) Cloud Computing: Business Benefits With Security, Governance and Assurance Perspectives. Available at : http://www.isaca.org/Knowledge-Center/Research/Documents/Cloud-Computing-28Oct09-Research.pdf [retrieved on 2010-11-21 02:43AM]

(5) Mark-Shane E. Scale (2009) Cloud Computing and Collaboration. Library Hi Tech News, Vol. 26 Iss:9, pp.10 – 13).

(6) Okuhara, M; Shiozaki, T; & Suzuki, T. (2010) Security Architecture for Cloud Computing. FUJITSUSci. Tech. J. v. 46(4) : p. 397-402 Available at : http://www.fujitsu. com/downloads/MAG/vol46-4/paper09.pdf [retrieved on 2010-11-21 02:43AM]

(7) Olzak, Tom (2010) Extend Risk Boundaries to the Cloud. Available at: http://blogs.techrepublic.com.com/security/?p=3547 [retrieved on 2010-11-21 02:43AM]

(8) Rahardja Untung, Murtad Dina Fitria, Chalifatullah. 2008. Periodic Historical System sebagaiEvaluasi Strategis dalam Mendukung Pengambilan Keputusan. Creative Communication and Innovative Technology ( CCIT ) Journal. 1 (2). 154-164.

(9) Henderi, Rahardja Untung, Yusuf Muhamad, 2011. Sistem Data Warehouse dan Data Mining sebagai Pengukur Kinerja Enterprise. Proseding konferensi Nasional System Informasi (KNSI), hal. 738-744.STMIK Potensi Utama, Medan.